Ibadah Qurban

( antara Syukur dan Sabar menuju ke Taqwaan )

 

Oleh : Yasin Nuntoro (Abu Mufid)

Guru Fiqih Tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI)

MI Miftahul Jannah Cijantung Jakarta Timur

  1. Pengertian

Kata kurban menurut bahasa, berasal dari kata bahsa Arab, dari kata قَرَب, يَقْرِبُ yang berarti : “dekat”.قُرْبَان  berarti : “dekat atau mendekati”. Menurut istilah syariat Islam qurban adalah “ Ibadah penyembelihan binatang ternah seperti ( Unta, Sapi, Domba ) atau sejenisnya yang dilaksanakan pada hari raya Haji atau Idul Adha pada tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Alloh Swt”.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, Kurban memiliki arti : “ persembahan kepada Allah ( berupa Biri-biri, Sapid dan Unta ) pada hari Lebaran Haji”.

Dalam ilmu fiqih, qurban juga disebut udhiyah. Udhiyah berasal dari kata “dahwah atau duha yang berarti : “ waktu matahari sedang naik di pagi hari “. Dari kata tersebut diambil kata dahiyah jamaknya udhiyah yang memiliki pengertian yaitu : menyembelih binatang diwaktu matahari sedang naik di pagi hari atau berqurban .

  1. Sejarah Qurban

 

Sejarah qurban pertama sekali dimulai dari kisah Nabi Adam dn Siti Hawa yang memiliki anak laki-laki yang bernama Qobil dan Habil. Nabi Adam As. dalam beberapa riwayat disebutkan perbedaan jumlah keturunan Nabi Adam As. Sebagian menuliskan Nabi Adam AS dan Hawa memiliki putra-putri kembar sebanyak 20 (pasang) jadi sebanyak 40 anak. Dalam riwayat lain Nabi Adam memilki anak 24 kembaran ( 48 anak ). Syariat Alloh Swt, yang diberikan kepada Nabi Adam As. bahwatidak diperbolehkan putra-putrinya untuk dinikahkan  (dikawinkan) dalam satu kembaran. Apabila melanggar aturan berarti keluar dari ajaran syari’at.

Dalam perjalanan system perkawinan yang berselang-seling, contoh kembaran anak ke 1 laki-laki, dinikahkan dengan kembaran anak perempuan ke 2 atau ke 3 dst. Rupanya tidak semulus harapan Nabi Adam As dan Hawa. Kisah pembangkangan anak durhaka Qobil yang tidak terima ketika Habil akan dijodohkan (memperistri) saudara kembar Qobil. Sebab saudara kembar Qobil lebih cantik yang akan diperistri habil. Qobil tidak merasa tertarik terhadap pasangan yang akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Qobil protes keras terhadap ayahnya yaitu Nabi Adam As. Qobil : “ Saya lebih berhak terhadap saudara perempuan saya “.

Karena pembangkangan Qobil itulah Nabi Adam As, memerintahkan kepada keduanya (Qobil dan habil) untuk ber-qurban kepada Tuhan-Nya (Alloh Swt). Habil adalah seorang peternak dan Qobil seorang Petani. Berangkatlah keduanya bergegas untuk melaksanakan Qurban. Habil mengambil seekor Kambing yang terbesar dan terbaik yang dimilikinya. Sedangkan Qobil mengambil hasil pertaniannya yaitu seikat tanaman yang paling jelek.

Setelah mereka berdua melaksanakan qurban, maka turunlah apdan api tersebut memakan qurban milik Habil. Sedangkan qurban milik Qobil tidak diterima Alloh Swt. Melihat kejaadian tersebut, Qobil tidak menyadari kesalahan yang diperbuatnya, bahkan sebaliknya Qobil marah terhadap Habil mengancam akan membunuhnya, dengan ancaman Qobil : “ Aku akan membunuhmu, sehingga engkau tidak bisa menikahi adik perempuan-ku “. Mendengar ancaman Qobil, Habil dengan tenang menjawab dan berkata : “ Alloh Swt hanya menerima qurban-nya orang yang bertaqwa.. “ Sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat : 27. Artinya :  “ Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil). Ia berkata (Qobil):”Aku pasti membunuhmu”. Berkata Habil :” Sesungguhnya Alloh Swt hanya menerima qurban dari orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al Maidah : 27 ).

 

  1. Syariat Qurban.

Perintah ibadah Qurban dimulai sejak Nabi Ibrahim As, yang memiliki seorang putra bernama Ismail, yang telah lama menanti puluhan tahun hingga tua renta tidak memiliki anak. Nabi Ibrahim adalah sosok pribadi yang sangat tabah dari berbagai cobaan ia juga sabar dalam menghadapi coba-cobaan, dia teguh pendirianya dalam mempertahankan keimanannya, teguh hatinya dalam melaksanakan perintah-perintah Alloh Swt.. Beliau juga pribadi yang sangat dermawan, pada masanya pernah sebelum dikaruniai anak pernah berqurban 1000 ekor Unta. Hingga salah satu diantara kaumnya berkata, mengapa engkau berqurban sangat banyak. Ibrahim–pun menjawab, apabila saya memiliki anak, niscaya akan saya qurbankan.

Nabi Ibrahim As, memiliki istri yang bernama Sarah, hingga memasuki usia senja belum juga dikarunia anak, hingga mengira bahwa Sarah itu mandul. Karena perkiraanya itu Sarah memberikan isyarat agar suaminya mau nikah lagi, kemudian Ibrahim As, mengawini Hajar. Perkawinan dengan Hajar, dikarunia seorang putra yang diberi Nama Ismail, kemudian disyukurinya kelahiran itu dengan suka cita. Setelah istri keduanya melahirkan Ismail, ternyata istri pertamanya yaitu Sarah juga mengandung. Sungguh diluar dugaan, mengingat kedua pasangan Ibrahim dan Sarah adalah pasangan yang sudah tua renta. Putera kedua Ibrahmim dari istrinya Sarah diberi nama Ishaq.

Sebelum kehamilannya, Malaikat telah mengabarkannya kepada Sarah dan Ibrahim, bahwa ia akan memiliki anak (keturunan). Sarah berkata : “ Sungguhmengherankan apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku seorang perempuan tua dan ini suamiku pun dalam usia tua pula. Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat aneh “ (QS. Hud : 72). Karena kebenaran itulah Malaikat kemudian menenangkannya di dalam Al Qur’an Surat Hud ayat 73 : Artinya : “ Para Malaikat itu berkata : “ Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Alloh ? (itu adalah) adalah rahmat Alloh dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu hai ahlul bait !, sesungguhnya Alloh Masa Terpuji lagi Maha Pemurah “.

Sesunggunya karunia yang diberikan Alloh kepada Ibrahim dan Sarah adalah atas doa-doa yang terus dipanjatkan keduanya, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an Surat Ibrahim ayat 39, Artinya : “ Segala puji bagi Alloh yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua-ku Ismail dan Ishaq. Sebenarnya Tuhan-ku benar-benar mendengar (memperkenankan) doa “.

  1. Kisah singkat Penyembelihan Ismail.

Di atas sudah disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah pribadi yang sangat tabah, mengarungi beraneka macam cobaan. Ia sabar dalam berbaga keadaan dan Alloh Swt kemudian melimpahkan rahmat kepadanya. Ibrahim adalah orang pilihan Alloh yang sangat mulia yang Kholil, dan menjadi bapaknya para nabi (abul Ambiya).

Nabi Ibrahim dan Ismail disamping memiliki kisah pembangunan Ka’bah yang sinarnya tetap terang hingga sekarang seantero jagad raya. Nabi Ibrahim dan Ismail juga memiliki kisah Qurban, yang menjadi tauladan bagi seluruh kaum muslimin di dunia ini.

Kisah Qurban berawal dari mimpi yang diberitahukan dari Alloh Swt, kepada Nabi Ibrahim As. Di dalam mimpinya Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail. Karena mimpi itulah Nabi Ibrahim As, segera menunaikan perintah Alloh Swt, tanpa sedikitpun keraguan. Sebelum menunaikantugas sucinya, untuk menguji kadar keimanan Ismail, Nabi Ibrahim As, berdialog kepada puteranya Ismail, menyampaikan perihal mimpinya itu. Apabila Ismail tidak memiliki keimanan yang sangat kokoh, sudah pasti akan menolak disembelih oleh bapaknya karena mimpi tersebut. Ismail mendengar ungkapan bapaknya dengan penuh ketabahan dan memohon kepada ayahandanya untuk segera melaksanakan tugas suci tersebut.

Alloh Swt, berfirman dalam Al Qur’an Surat Ash-Shafaq ayat 102, yang artinya : “ Maka tatkalaanak itu sampai ( pada umur sanggup) berusaha bersama-sama dengan Ibrahim, Ibrahim berkata : “ Hai anak-ku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu “ Ia menjawab : “ Hai Bapak-ku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “. (QS.Ash-Shafat:102).

Alloh Swt, berfirman di dalam Al Qur’an Surat Ash-Shafat ayat 104-107.

Artinya : “ Dan kami panggilah dia (ayat 104) : “ Hai Ibrahim “ Sesungguhnya engkau telah memebenarkan mimpi itu “, Sesungguhnya demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik “. (ayat 105). “ Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata “. Ayat 106. “ Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembilahan yang besar “. Ayat 107.

 

  1. Dasar Hukum Pelaksanaan Qurban

         Adapun dasar hukum yang memerintahkan umat Islam melakanakan ibadah Qurban dan Shalat Sunah Hari Raya Idul Adha, terdapat pada

  1. Al Qur’an Surat Al Kautsar ayat 1-3:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اِنَّا اَعْطَيْنَاَكَ الْكَوْثَرَ

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَالْاَبْتَرُ

” Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat untuk Tuhan-Mu dan ber-qurbanlah, Sesungguhnya orang yang membenci dialah yang terputus “.

  1. Hadits Rasululloh Saw.

Barang siapa yang memperoleh suatu kelapangan, tetapi dia tidak berqurban, janganlah ia menghampiri tempt shalat kami “ ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairoh ).

  1. Abu Hanifah (Imam Hanafi), memandang bahwa hukum ibadah Qurban adalah wajib. Kewajiban itu berlaku bagi yang mampu dan bermukim dalam suatu tempat pada setiap tahunya.
  2. Jumhur Ulama : Imam Syafi’I, Imam Maliki, Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal), memandang bahwa ibadah qurban adalah bukan wajib akan tetapi sunnah muakad (sunah yang dikuatkan/sangat dianjurkan).

Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Saw, yang artinya : “ Bahwa Rasululloh pernah bersabda, apabila kamu melihat hilal (awal bulan) Dzulhijjah, dan salah seorang diantara kamu ingin berqurban, hendaklah ia menahan (diri dari memotong) rambut dan kuku-kukunya (binatang yang akan diqurbankan). HR. Jama’ah, kecuali Bukhori, dari Ummu Salamah.

  1. Dalam Hadits lain Rasululloh Saw bersabda :

Ada tiga hal yang wajib atasku dan tattawu (sunah) bagimu, yaitu : “ shalat witir, kurban dan shalat dhuha “. (HR.Ahmad, Al hakim dan Daruqutni dari Ibnu Abbas).

Dari makna ayat dan hadits yang mujmal (global) di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum ibadah qurban adalah Sunah Muakkad akan tetapi wajib bagi orang yang mampu.

Perintah ber-qurban dari Al Qur’an surat Al Kautsar ayat 1-3 dan beberapa hadits Rasululloh diatas, sekaligus napaktilas Syariat yang disampaikan kepada Nabi Ibrahim As, dengan ujian keimanan dan ketaqwaanya kepada Alloh Swt. Betapa tidak di usia yang senja baru dikaruniai seorang anak laki-laki ( Ismail ) yang sangat dinanti-nanti dan dibanggakan dan sangat dicintainya, tetapi tidak lama kemudian, Alloh Swt, mengujinya untuk mengurbankan putra satu-satunya dari Siti Hajar itu untuk disembelih.

Dengan keikhlasan dari Nabi Ibrahim dan Ismail, maka Alloh Swt, memberikan anugerah kepada kepada beliau, dengan ditebus seekor domba yang besar.(QS.As-Shafat:107). Nabi Ibrahim As, masuk dalam kelompok golongan hamba-hamba Alloh yang sabar (Nabi Ibrahim As, juga termasuk dalam Nabi/Rasul Ulul Azmi).

  1. At Taubah ayat 3, QS. Al Baqarah ayat 197, QS. Al Hajj ayat 28, Ibadah Qurban sebagai Syiar Umat Islam se dunia yang tidak bisa dipisahkan dengan ibadah Haji, yang merupakan satu-kesatuan.

Disamping perintah ibadah qurban juga ada perintah melaksanakan shalat Idul Adha. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surat Al Kautsar ayat 2: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ artinya : “ maka laksanakan shalat dan berqurbanlah “.

Rangkaian perintah ibadah Haji, berurutan dengan ibadah qurban dan shalat Idul Adha yang dilaksanakan pada setiap tanggal 9, 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijah. Tanggal 9 Dzulhijah adalah yaumul ‘arafah, hari wuquf di Arofah, para Jamaah Haji melaksanakan wuquf (berkumpul) di Arofah. Dalam hadits disebutkan bahwa “Haji adalah Arafoh”. Bagi umat Islam yang tiak melaksanaan Ibadah Haji, pada tanggal 9 Dzulhijjah, disunahkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Setelah puasa Arofah malam ke 10 Dzulhijjah mengumandangkan Takbir, berdzikir kepada Alloh dengan memperbanyak kalimat-kalimat tauhid seperti, tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Pagi hari setelah fajar 10 Dzulhijjah, disunahkan berpuasa untuk menahan diri tidak makan dan minum dilanjutkan melaksanakan Shalat Idul Adha dan mendengarkan khutbah, baru setelahnya berbuka.

Pada tanggal, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, sebagai hari Tasyrik (hari diharamkan berpuasa), hari disunahkan untuk makan dan minum. Dalam tinjauan sejarah Islam, Hari Raya Qurban (Idul Adha ) adalah hari raya Akbar. Sedangkan hari raya Idul Fitri adalah hari raya kecil.

 

  1. Persyaratan Ibadah Qurban

           

            Persyaratan yang dituntut dalam pelaksanaan Ibadah Qurban antara lain:

  1. Islam.
  2. Merdeka
  3. Berakal.
  4. Memiliki kemampuan menyediakan hewan Qurban

Orang yang mampu wajib berqurban, menurut Imam Hanbali.

 

Syarat Hewan Qurban:

  1. Binatang ternak yang diperbolehkan (Domba, Sapi an Unta), atau binatang ternak sejenisnya.
  2. Sudah cukup umur.

2.1.      Unta telah berumur 1 tahun lebih.

2.2.      Sapi atau kerbau telah berumur 2 tahun

2.3.      Domba telah berumur 1 tahun

2.4.      Kambing telah berumur 2 tahun.

  1. Tidak cacat atau berpenyakit.
  2. Dilaksanakan pada waktu yang diperbolehkan.

 

Persyaratan Penyembelihan :

  1. Menggunakan pisau yang tajam.
  2. Membaca bismillah

Penyembelih adalah wajib membaca lafadz bismillah, tidak dengan menggunakan atau hanya mendengarkan lafadz bismillah atau doa-doa penyembelihan. Yang menyembelih diutamakan yang berqurban.

  1. Bila Penjagal tidak mengucapkan lafadz bismillah baik dalam hati atau dilafadzkan, maka haram dagingnya.
  2. Penyembelih hendaknya tahu ketentuan syariat penyembelihan.
  3. Disunahkan membaca Doa.
  4. Hikmah Ibadah Qurban dan Hari Raya Idul Adha.

Ada beberapa hikmah atau pelajaran yang bisa diambil oleh kita sebagai orang muslim dan muslimat.

  1. Qurban Jaman dulu dengan Qurban Umat Nabi Muhammad Saw.

Ibadah Qurban umat terdahulu, Alloh Swt, langsung menunjukan kepada orang yang berqurban atau masyarakat disekitarnya, bahwa qurbanya itu diterima atau tidak diterima itu langsung diperlihatkan oleh Alloh Swt, sebagaimana telah diuraikan di atas pada sejarah qurban Qobil dan Habil.

Andai saja umat Nabi Muhammad Saw, hingga kita hari ini, saat ini, pada masa sekarang ini, apabila ibadah qurban kita langsung diperlihatkan oleh Alloh Swt, niscaya kita bisa merinding, akan ke alpaan, keangkuhan, kesombongan dan kecongkakan kita.

Hal ini sengaja Alloh Swt, sedang memberikan ujian kepada kita, apakah kita termasuk hamba-bamba Alloh yang taat, sabar, ikhlas dan dermawan.

 

  1. Hari Raya umat jahiliyah dan Orang Islam.

Hari raya umat-umat terdahulu terutama masa jahiliyah, pasti ditandai dengan pesta pora minuman dan makanan yang haram, mabuk-mabukan, berjudi, mengundi nasib, bahkan hingga mengorbankan anak perempuanya untuk dijual. Sebagaimana tradisi uat jahiliyah pada hari raya Nairuz dan Mahrojan. Hari Raya Nairuz dan Mahrojan adalah hari raya umat Jahiliyah yang dilaksanakan pada setiap 6 (enam) bulan sekali, satu tahun 2 (dua) kali.

Hari raya umat Islam yang diperintahkan oleh Sang Pencipta dan Sang Pengatur Jagad Raya, selalu didahului dengan melaksanakan puasa, baik wajib maupun sunah, membaca kalimat-kalimat thoyibah, mengagungkan asma-asma Alloh, Swt, dengan lafadz tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, melaksanakan shalat sunah 2 (dua) rokaat disertai khutbah, itulah ciri-ciri hari raya umat Islam.

Hari Raya Idul Fitri, didahului perintahkan puasa wajib satu bulan penuh dan hari raya Idul Adha diperintahkan puasa sunah muakad, pada 9 Dzulhijjah.

  1. Dengan berqurban, berarti kita telah melaksanakan perintah Alloh Swt dan Rasulnya.

Sebagai bukti ketaatan dan kepasrahan seorang hamba kepada sang Rabb-Nya, sebagai Tuhan Sang Pengatur segala aspek urusan kehidupan manusia dan jagad raya. Sebagai bukti tanda ketaqwaan seorang muslim dan muslimah, yang memiliki keimanan yang power full, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ali, bahwa Iman itu terdiri dari 2 (dua) paruh yaitu :

اَلْاًيْمَانُ نِسْفَانِ : نِسْفٌ صَبْرٌ وَنِسْفٌ شًكْر

Artinya : “ Iman itu terdiri dari dua paruh, separuhnya sabar dan separuhnya Syukur “

Seorang muslim dan muslimah yang telah melaksakan Ibadah haji, berqurban dengan mengeluarkan sebagian harta yang ia miliki dan cintai, berpuasa dan shalat wajib dan sunah lainya seperti shalat Idul Adha, adalah sebagai bukti dari ungkapan rasa syukur atas karunia berbagai nikmat yang diberikan oleh Alloh Swt.

Diantara beberapa hikmah ibadah Qurban, Haji dan Idul Adha bagi diri dan lingkungan dan bangsa diantara lain :

  1. Melaksanakan Syariat Alloh Swt.
  2. Untuk bertaqorub kepada Alloh Swt,
    Sebagaimana Alloh Azza wa Jalla berfirman : ” Sesungguhnya shalat-ku, ibadah-ku, hidup-ku

Dan  mati-ku, hanyalah untuk Alloh Tuhan semesta Alam,…. ” (QS. Al ‘an ‘am : 162-163).

  1. Menghidupkan sunah-sunah orang-orang yang bertauhid.
  2. Sebagai bentuk kepasrahan seorang hamba kepada Tuhan-Nya.
  3. Menebar kasih sayang antar sesama, khususnya faikir miskin.
  4. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh Swt, atas berbagai karunia Nikmat.
  5. Sebagai simbol dan sarana persatuan umat Islam se Dunia.
  6. Sarana Silaturahmi antar sesama muslim.
  7. Syiar Islam se antero jagad raya.
  8. Menghilangkan sifat kikir.
  9. Menumbuhkan sifat dermawan.
  10. Dengan berqurban sedang meraih amalan tertinggi masuk surge.
  11. Melatih kesabaran.

14 Melatih ketaatan.

  1. Melatih kedisiplinan dalam beribadah.
  2. Mempertajam kepekaan sosial.
  3. Sarana meredam kesombongan.
  4. Sarana kebangkitan Umat Islam se Dunia
  5. Menegakkan Syariat Alloh Swt.
  6. Qurban sebagai amalan-amalan para Nabi dan Rasul.

 

 

Bogor, 18 Agustus 2018 M /

7 Dzulhijjah 1439 H

 

Refferensi :

  1. Al Qur’an dan Terjemahnya, Kemenag RI
  2. Ensiklopedi Islam.Penerbit Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet.ke VIII, 2001
  3. Ensiklopedi Muslim Lengkap, Terjemah Minhajul Muslimin
  4. Lentera Kisah 25 Nabi dan Rasul, Kalam Mulia, Cet.ke 4, 2002.
  5. Amalan-amalan tertinggi masuk Surga.Penerbit Qisthi Press. Cet.ke 1 2004.
  6. Sabar, satu prinsip gerakan Islam, Yusuf Al Qordhawi. Penerbit : Robbani Press Cet ke 3, Tahun 2002.
  7. Klasifikasi Kandungan Al Qur’an : Gema Insani Pres. Cet. Ke 8 Tahun 1999.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *